Powered By Blogger

forum lsd

selamat datang di blog kami,enjoy
selamat bergabung dengan kami di info pertanian dan pendidikan

Selasa, 23 Agustus 2011

RIWAYAT KYAI GUSTI DAN ASAL-USUL DUSUN LANJAN

PROFIL SINGKAT DESA LANJAN DAN DUSUN LANJAN

Desa Lanjan adalah sebuah desa kecil yang terletak persis di sebelah selatan Desa Sumowono, jarak tempuh jika dari Desa Sumowono ke Desa Lanjan hanya sekitar 1 Km sedangkan kija perjalanan dari arah ibukota Kabupaten Semarang, yaitu Ungaran ke Desa Lanjan kurang lebih 20 Km. Desa Lanjan di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Sumowono, di sebelah Timur berbatasan dengan Desa Banyukuning, di sebelah barat berbatasan dengan Desa Candi Garon dan di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Trayu. Desa Lanjan memiliki luas wilayah 425 Ha dengan areal persawahan yang menempati porsi lahan terbesar, maka tak heran jika sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan disusul profesi pedagang, di karenakan adanya faktor kedekatan geografis dengan pasar Sumowono. Desa Lanjan hanya memiliki sebuah sungai yang cukup besar yaitu Kali Ringin, sungai ini memiliki hulu di daerah Gondangan, sungai yang bernama Kali Ringin ini mengalir kearah barat hingga menyambung ke Kali Bodri.
Desa yang terletak di ketinggian 900 diatas permukaan laut ini sekarang berpenduduk berjumlah 3.686 jiwa yang terdiri dari 1.763 laki-laki dan 1903 perempuan. Aspek pendidikan cukup berkembang di desa ini tampak dari jumlah Sekolah Dasar Negeri sebanyak dua buah, Madrasah Ibtidaiyah satu buah dan Taman kanak-kanak sejumlah tiga buah. Aspek spiritualitas Islami sangat kental di desa ini, mungkin karena dekat dengan pondok pesantren di Desa Sumowono, dan hampir di setiap Dusun di Desa Lanjan memiliki masjid. Jumlah Dusun di Desa Lanjan ada 7 Dusun antara lain: dusun Lanjan, dusun Kali Banger, dusun Jambon, dusun Susukan, dusun Larangan, dusun Tegalroto dan dusun Ngelo. Mengenai dusun Lanjan ini di sebelah utara berbatasan langsung dengan Desa Sumowono, disebelah berbatasan dengan dusun Njambe ( Wilayah CAndi Garon )  dan dusun Tegalroto, disebelah timur berbatasan dengan Dusun Kali Banger, dusun Jambon dan dusun Susukan. khusus mengenai Dusun Lanan ini di huni oleh 221 kepala keluarga dan terdapat 166 kepala rumah tangga.

RIWAYAT DUSUN LANJAN

Sejarah awal Dusun Lanjan tidak dapat dilepaskan dari peranan pasangan suami istri yang berprofesi sebagai petani yang berasal dari Desa Candi Garon yang dkemudian hari akan disebut sebagai Kyai Rusmi dan Nyai Rusmi, ada pula yang memberikan nama Kyai Arum dan Nyai Arum, serta ada pula yang memberikan nama Kyai Abdul Madjid dan Nyai Abdul Madjid. Mereka berdua ini berasal dari Dukuh Candi, yang sekarang masuk dalam Desa Candi Garon, dan bekerja menggarap sawah di Dusun Lanjan. Pada awalnya pasangan suami istri petani ini memiliki rumah sekaligus bobak citak atau pendiri daerah Candi Garon, lalu mereka bermaksud mencari penghidupan lain dengan keluar dari desanya. Akhirnya, mereka menggarap sebidang tanah di wilayah yang kemudian di sebut dengan nama Dusun Lanjan ini. Jarak antara rumah mereka di Desa Candi Garon dengan tempat garapan mereka, cukup jauh sehingga mereka membawa bekal bahan makanan yang masih mentah untuk dibawa ke sawah dan dimasak disana.
Lama-kelamaan mereka berpikir untuk mendirikan sebuah gubuk sebagai sarana tempat tinggal mereka. Selain itu mereka juga membawa serta lembu mereka yang biasa digunakan untuk membajak sawah dan dibuatkan kandang di sekitar gubuk tempat tinggal mereka. sejak saat itu Kyai dan Nyai Rusmi merasa senang tinggal di Dusun lanjan ini hingga mereka memiliki keturunan disini. Dalam perkembangannya, penduduk Dusun Lanjan bukan saja berasal dari anak keturunan Kyai dan Nyai Rusmi saja, namun sudah banyak sekali pendatang dari luar daerah. Menurut cerita penutur, yaitu Pak Taris, kebanyakan penduduk Lanjan berasal dari wilayah Mataram atau Yogya. Mereka menyingkir kearah utara karena di wilayah Mataram terjadi situasi yang kurang aman karena merajalelanya gerombolan berandal atau penjahat. Rombongan orang-orang Mataram ini kemudian tiba di daerah Lanjan, menurut cerita, profesi para pendatang dari Selatan ini adalah sebagai pedagang ikan asin.
Mayoritas penduduk Lanjan adalah bukan keturunan langsung dari Kyai dan Nyai Rusmi melainkan dari orang-orang pendatang dari wilayah selatan misalnya dari daerah Menoreh dan daerah Yogya. Sedangkan keturunan langsung dari Kyai dan Nyai Rusmi sampai sekarang ada di dusun Suruhan bernama Mbah Mudji Marsaid, sedangkan di Dusun Lanjan sendiri juga ada keturunannya yang bernama Pak Ridwan namun sudah meninggal.  
Cerita mengenai kehebatan Kyai Rusmi ini tidak saja terletak pada kepandaian menemukan dan membuka hutan untuk dijadikan sawah, namun beliau juga memiliki daya linuwih seperti orang suci. Menurut cerita, setelah membuka sawah kemudian bermaksud akan mengairinya. Lalu beliau menancapkan sebuah incis atau sejenis tongkat yang berujung besi aji kemudian beliau mencabutnya dan serta merta keluarlah air. Sumber air atau blumbang sedianya untuk anak cucunya dalam memenuhi kebutuhan mengairi sawah mereka dikemudian hari namun karena perkembangan jaman penduduk setempat cenderung tidak merawat sumber air ini sehingga saat ini dapat dikatakan sumber air ini tidak mengalir. Menurut penutur, yaitu Pak Sarbi, rusak dan padamnya sumber air ini larena ulah dari penduduk yang melanggar pantangan yang berlaku di blumbang ini. pantangan tersebut antara lain dilarang mencuci alat dapur terutama sarangan dan dilarang membuang kotoran di blumbang ini. Masyarakat kebanyakan tidak mengindahkan hal ini dan bahkan melanggarnya sehingga sumber air di sini berkurang debit airnya lalu pada akhirnya mati.
Dusun Lanjan setidaknya memiliki tiga sumber mata air yang merupakan peninggalan dari Kyai Rusmi selaku pendiri dusun ini, ketiga blumbang itu antara lain blumbang Kali Tumpak, blumbang Kali Wetan dan blumbang Kali Beji. Dari ketiga blumbang ini, hanya blimbang Kali Beji yang masih terawat dengan baik serta memiliki debit air yang melimpah. Sedangkan kedua blumbang yang lain dijadikan tempat merendam kayu. Cerita mengenai daya linuwih dari tokoh Mbah Kyai Rusmi adalah mengenai peralatan pertaniannya yaitu alu dan lesung. Konon tempat alu dan lesung ini kemudian bernama daerah Tumpak. Di wilayah Lanjan terdapat aturan untuk dilarang memukul lesung pada malam hari.
Hubungan kemasyarakatan antara penduduk desa Lanjan dengan penduduk dusun CAndi di desa Candi Garon juga memiliki kisah yang unik. Dalam masalah pernikahan, antara penduduk desa Lanjan dengan penduduk dusun Candi dilarang menjalin hubungan pernikahan. Menurut cerita, hal ini terjadi karena asal dari pendiri atau bobak citak wilayah Lanjan yaitu Kyai dan Nyai Rusmi berasal dari dusun Candi sehingga menurut keyakinan masyarakat penduduk desa Candi "lebih tua" dari penduduk Lanjan. Kyai dan Nyai Rusmi hingga akhir hayatnya tetap tinggal di Dusun Lanjan dan dimakamkan di sebuah bukit yang kemudian bernama Bukit Manjeran, bukit ini masuk wilayah Lanjan. Menurut cerita tutur, beliau berdua memilih untuk dimakamkan di wilayah Lanjan karena mereka berdua telah menemukan kebahagiaan di tempat ini. Daerah Lanjan merupakan kawasan yang subur sehingga akan mendatangkan kebahagiaan bagi siapa saja yang hidup di daerah ini. 


KISAH KYAI GUSTI DARI TEGALREJO HINGGA LANJAN


Wilayah lanjan memiliki sebuah kawasan pemakaman yang berada di bukit Manjeran, di kawasan pemakaman ini terdapat sebuah makam yang oleh masyarakat dan peziarah dinamakan makam Mbah Kyai Gusti. Makam ini selalu ramai d kunjungi para peziarah setiap hari Jum'at Kliwon. Peziarah yang ke makam ini datang dari penjuru tanah air. Seringkali kedatangan para peziarah ini didasari  niat untuk meluluskan hajat mereka, misalnya mengenai  kepangkatan, ketentraman dan kesehatan. Menurut cerita dari para orang tua, sosok Kyai Gusti Sayyid Abdurrahman ini bukan orang asli dari dari Lanjan melainkan beliau adalah seorang pendatang dari wilayah selatan atau lebih tepatnya dari daerah Yogyakarta. Beliau datang ke Lanjan sekitar paruh pertama abad XIX atau setelah selesainya Perang Jawa yang di kobarkan oleh almarhum Pangeran Diponegoro. Kyai Gusti Abdurrahman merupakan salah satu penasehat Pangeran Diponegoro yang ikut menyingkir  ke daerah utara sambil menyiarkan agama islam. Menurut cerita, nama beliau adalah Kyai Abdurrahman dan ada pula yang menyebutnya Mbah Kyai Gusti Sayyid Abdurrahman. Perjalanan beliau dari Yogyakarta terus ke arah utara melewati Pingit-Temanggung. Ketika tiba disuatu tempat dan melewati sebuah uwot atau jembatan jecil, kaki dari kuda tunggangannya terperosok sehinggakaki kuda tersebut patah.  Untuk mengingat peristiwa ini maka Kyai Gusti ini menamai daerah tersebut Kradenan-Jembatan. Perjalanan Kyai Gusti kemudian di lanjutkan hingga tiba di dearah Sumowono, Kyai Gusti mendirikan sebuah rumah sehingga wilayah tempat tinggalnya disebut Kradenan-Kampung.
Selama menetap di Sumowono dan menyebarkan syiar islam, beliau juga mendirikan sebuah masjid yang digunakan sebagai pusat syiar islam. Ketika masjid tersebut berdiri masih belum  ada sumber air yang memadai untuk di gunakanalam keperluan masjid. Kemudian beliau berjalan, ke utara menuju ke bawah Gunung Ungaran, disana beliau menancapkan sebuah incis ( tongkat, berujung besi aji ). Ketika incis dicabut, maka keluarlah sumber air yang melimpah ruah, kemudian sumber air tersebut diberi nama Tuk Mubalan. Kemudian untuk mengalirkan air ini ke Masjid, incis tersebut diseret hingga membentuk sebuah aliran air, kemudian tempat aliran air ini diberi nama Wangan Aji.
Pada suatu ketika, Kyai Gusti hendak sholat Ashar dan berwudlu, lalu sekarang bekas tempat berwudlu sekarang diberi nama daerah Padasan. Selam sisa hidupnya Kyai Gusti mengapdikan diri untuk syiar islam di daerah Sumowono. Kyai Gusti menyebarkan islam di Sumowono didampingi oleh seorang cerdik pandai bernama Chatib Anom dari Banyubiru,  beliau ini merupakan orang kepercayaan Kyai Gusti untuk turut menyebarkan Islam. Saat ini almarhum Chatib Anom dimakamkan di sebelah barat Sumowono. Kyai Gusti tinggal dan menetap di Sumowono hanya  diikuti oleh istrinya yang gabuk atau mandul beserta dua orang pengikutnya, saat ini istri dan kedua pengikutnya dimakamkan disekitar nisan Kyai Gusti. Sebelum kedatangan Kyai Gusti, penduduk wilayah Sumowono telah memeluk islam. Menurut cerita, umur islam di wilayah sumowono konon hamoir seumur dengan kesultanan Demak. Menirut cerita tutur, dahulu ada seorang penghulu atau labai yang bernama Mbah Marjani. Suatu ketika Sunan Kali Jaga sedang melakukan perjalanan keliling jawa, dan singgah diwilayah Sumowono. Beliau mengetahui bahwa di Sumowono, telah berkembang agama Islam dibawah lebai Marjani. Lalu pada suatu ketika tiba sebuah keputusan dari Kesultanan Demak yang menyatakan bahwa lebai Marjani dari Sumowono diangkat sebagai Tumenggung di wilayah Pekalongan dengan gelar Jaya Diningrat.
Pada saat Kyai Gusti meninggal, beliau di makamkan di daerah Padasan. Namun ketika dimakamkan disana, sering terjadi keanehan antara lain jika ada penunggang kuda yang tidak turun dari kudanya akan jatuh. Maka atas pertimbangan maka makam beliau dipindahkan ke Pagongan, tapi terjadi hal yang sama. Kemudian para orang tua berkumpul untuk memindahkan makam beliau ke Bukit Kuntho Bimo, namun itu dirasakan terlalu jauh, sehingga susah untuk merawat. Akhirnya makam beliau dipindahkan di Bukit Manjeran Lanjan. Akan tetapi muncul pertentangan dari berbagai pihak. 


NILAI SEJARAH DAN BUDAYA


Makam Kyai Gusti di Desa Lanjan memiliki sejarah dan budaya yang tinggi. Dengan melihat riwayat hidup Kyai Gusti, yang telah dijelaskan diatas tampak sekali peranan vital Kyai Gusti dalam menyebarkan dan mengembangkan agama Islam di Sumowono. Hal ini berarti beliau tidak membedakan antara rakyat kecil dengan seorang tokoh besar.
Cerita mengenai makam beliau "tidak mau" di beri cungkup juga menandakan bahwa beliau adalah seorang Kyai yang tidak mementingkan aspek duniawai. Aspek  budaya yang memperlihatkan akulturasa budaya jawa dan islam juga tampak berlangsung acara Nyaderan di makam Manjeran. Tradisi slametan yang merupakan khas budaya jawa, yang dipadukan dengan do'a do'a islami sehingga muncul sebuah varian budaya baru dalam bentuk Nyadranan. 
Dusun Lanjan merupakan wilayah yang subur, karena memiliki sumber air yang cukup, meskipun beberapa sumber air tersebut dalam kondisi kritis.
Nilai sejarah dan budaya yang berkembang di masarakat desa Lanjan setidaknya akan mampu di lestarikan sehingga proses pewarisan antar generasi tidak terhambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar